Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

COVID-19 dari sudut pandang anak

Entah sampai kapan anak usia sekolah akan diliburkan. Juga kewajiban menggunakan masker bagi masyarakat yang terpaksa harus beraktivitas di luar rumah. Dunia usaha seperti pariwisata,  perhotelan dan transportasi pun terkena dampak. Penutupan akses masuk dari luar negeri membuat industri yang berkaitan sangat merasakan imbasnya. Imbauan untuk tetap dirumah (stay at home)  dalam rangka pembatasan sosial (social distancing) memang membuat sendi-sendi ekonomi seakan ikut berhenti. Akan tetapi setelah masyarakat mengikuti imbauan mereka juga menunggu langkah apa yang akan dilakukan pemerintah.
 
COVID-19 sudut pandang anak
Gambar dari PIXABAY

Bagi masyarakat yang sumber ekonomi memang tidak terganggu akibat fenomena pembatasan sosial ini malah mungkin merasakan imbas positif. Anak usia sekolah yang dirumahkan membuat orang tua lebih bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama mereka. Apalagi jika orang tua tersebut termasuk bagian yang harus bekerja dari rumah (work from home). Mereka bisa bekerja sekaligus mengawasi buah hati dari rumah.  

Belajar online


Sudah hampir satu bulan anak diharuskan belajar dari rumah. Beberapa sekolah terutama jenjang SMP dan SMA mempunyai mekanisme pembelajaran online melalui aplikasi Whatsapp. Guru menugaskan beberapa tugas melalui media online agar dikerjakan oleh anak.  Dalam mengerjakan tugas anak dilarang untuk bertemu dan berkumpul dengan teman sekolah.  Biasanya orang tua yang membantu anak untuk menyelesaikan tugas anak.  Beberapa anak yang tidak mempunyai telepon genggam sendiri juga bisa meminjam milik orang tuanya ketika mengumpulkan tugas.  

Mungkin hal demikian diatas pada saat belum ada anjuran belajar dirumah sulit diterapkan. Selain tidak semua murid memiliki telepon genggam,  disatu sisi beberapa sekolah memang melarang murid untuk membawa atau bahkan memilikinya. Disisi lain juga tidak semua guru mempunyai akses untuk memiliki telepon genggam yang sesuai dengan teknologi terbaru.  Banyak guru-guru terutama golongan senior yang lebih suka menggunakan telepon genggam jenis lama.

Orang tua benar-benar harus mengawasi anak perihal penggunaan telepon genggam ini. Disatu sisi memang pembelajaran online mengharuskan anak untuk mengakses telepon,  disisi lain jika tidak terkontrol maka anak malah akan bermain dengan telepon genggam tersebut. Perlu usaha lebih bagi orang tua untuk rajin mengecek telepon milik anak agar tetap dalam jalur yang baik. 

Dunia anak dunia bermain


Disisi lain memang harus diakui bahwa anak memang pada dasarnya suka bermain. Pola belajar dirumah membebaskan anak dalam segi pembagian waktu.  Porsi bermain jelas lebih banyak karena dirumah saja.  Mengerjakan tugas dari guru dan mengumpulkannya mungkin hanya memakan beberapa waktu.  Orang tua harus memiliki andil dalam mengatur waktu belajar anak serta harus pandai memilih agar anak meski bermain akan tetapi tetap bermanfaat bagi anak tersebut.  

Mungkin karena bosan atau memang sudah menjadi kebiasaan,  beberapa hari belakangan mulai terlihat orang tua dan anak yang memilih untuk bersepeda.  Biasanya memang ketika hari libur ada beberapa keluarga yang memilih untuk berolahraga bersama dengan bersepeda.  Ternyata ketika anak "diliburkan" kebiasaan untuk bersepeda malah menjadi fleksibel.  Mereka bisa kapan saja bersepeda.  Pagi hari maupun pada siang hari.  Pantauan penulis juga melihat beberapa orang tua yang membeli sepeda untuk anak.  Meskipun harus ada penelitian lebih lanjut,  secara kasat mata memang terlihat penambahan jumlah pesepeda daripada hari-hari biasa.  Para pesepeda didominasi oleh remaja dan anak-anak.  Biasanya mereka berkeliling desa pada pagi hari meskipun ada beberapa yang terlihat sampai siang dan sore hari. 

Permainan tradisional


Beberapa anak lain memilih untuk bermain permainan tradisional.  Penulis sempat terheran-heran melihat seorang anak sedang bermain gasing.  Permainan yang sudah lama sekali tidak penulis lihat dimainkan oleh anak jaman now. Sempat penulis tanyakan darimana anak tersebut mendapat gasing.  Ternyata dibuat sendiri dibantu oleh orang tua dari anak tersebut. Mungkin salah satu strategi orang tua agar anak tidak bosan dalam masa belajar di rumah. 

Anak-anak  yang lain juga terlihat memainkan permainan tradisional yang lain seperti petak umpet.  Meskipun masih dimainkan dibeberapa kampung tapi karena semua anak sekarang berada dirumah sehingga lebih mudah untuk mengumpulkan peserta permainan. Sebenarnya memang anjuran agar belajar dirumah juga melarang anak untuk berkumpul dengan teman sepermainan.  Tapi ya dasar dunia anak adalah dunia bermain. Apalagi dikampung yang jauh dari hiruk pikuk sosialisasi covid 19. Masa belajar dirumah seolah liburan saja.  Anak seakan tidak peduli dengan keresahan orang tuanya dalam menghadapi kelesuan ekonomi dampak pandemi covid 19.

Posting Komentar untuk "COVID-19 dari sudut pandang anak"

Berlangganan via Email